0 Comments

Dua supplier menawarkan produk yang terlihat hampir sama. Supplier pertama memberikan harga Rp100.000 per unit, sedangkan supplier kedua hanya Rp85.000. Kalau keputusan dibuat berdasarkan quotation awal, pilihan kedua terlihat jelas lebih menguntungkan.

Masalahnya, barang tidak berpindah dari supplier ke gudang secara gratis.

Ada biaya pengiriman, handling, asuransi, penyimpanan, proses administrasi, pajak atau pungutan yang berlaku, selisih kurs, hingga risiko barang rusak selama perjalanan. Setelah seluruh biaya tersebut dihitung, produk Rp85.000 tadi belum tentu benar-benar lebih murah.

Karena itu, memahami cara menghitung landed cost barang membantu bisnis melihat biaya berdasarkan kondisi saat produk benar-benar siap dijual, bukan sekadar angka yang tertulis pada penawaran supplier.

Harga Beli Hanya Titik Awal

Purchase price memang merupakan komponen penting, tetapi angka tersebut hanya menjelaskan berapa biaya barang di sisi supplier.

Bisnis masih harus memindahkan barang tersebut ke lokasi yang dibutuhkan.

Semakin panjang rantai perjalanannya, semakin banyak komponen biaya yang mungkin muncul. Barang dari supplier lokal yang harganya sedikit lebih tinggi bisa saja memiliki total biaya lebih rendah dibanding produk murah yang membutuhkan proses logistik lebih kompleks.

Inilah alasan membandingkan supplier hanya berdasarkan harga per unit sering menghasilkan gambaran yang tidak lengkap.

Apa Sebenarnya Landed Cost?

Secara sederhana, landed cost adalah total biaya yang dikeluarkan hingga barang tiba di lokasi tujuan dan berada dalam kondisi siap masuk ke proses bisnis berikutnya.

Rumus praktisnya dapat dibayangkan seperti ini:

Harga barang + biaya pengiriman + asuransi + pungutan yang berlaku + handling + biaya terkait lainnya = total landed cost.

Setelah mendapatkan total tersebut, bisnis dapat membaginya dengan jumlah unit yang benar-benar diterima dalam kondisi layak untuk mengetahui biaya aktual per unit.

Komponennya dapat berbeda tergantung jenis barang, lokasi supplier, metode pengiriman, dan proses perdagangan yang digunakan.

Ongkir Bisa Mengubah Seluruh Perhitungan

Produk murah belum tentu murah untuk dipindahkan.

Barang berukuran besar tetapi bernilai rendah merupakan contoh sederhana. Harga produknya mungkin menarik, tetapi volume yang digunakan dalam pengiriman bisa membuat biaya logistik menjadi signifikan.

Berat juga berpengaruh.

Seratus unit produk kecil dan ringan memiliki struktur biaya pengiriman yang berbeda dari seratus unit barang besar atau berat, meskipun nilai pembeliannya sama.

Karena itu, biaya transportasi perlu dimasukkan sebelum menyimpulkan supplier mana yang paling ekonomis.

Jangan Lupa Biaya dari Gudang ke Gudang

Kesalahan lain adalah hanya menghitung transportasi utama.

Misalnya, bisnis sudah memasukkan biaya pengiriman internasional tetapi melupakan perjalanan barang sebelum dan sesudahnya.

Barang mungkin perlu dipindahkan dari gudang supplier ke terminal keberangkatan. Setelah tiba di wilayah tujuan, barang masih harus bergerak menuju gudang bisnis.

Setiap tahap dapat memiliki biaya tersendiri.

Ketika volume transaksi meningkat, biaya kecil yang berulang pada setiap shipment dapat berubah menjadi angka yang cukup besar.

Incoterms Memengaruhi Biaya yang Menjadi Tanggung Jawab Bisnis

Dalam perdagangan internasional, quotation perlu dibaca bersama terms pengirimannya.

Harga yang terlihat berbeda belum tentu mencakup tanggung jawab yang sama.

Pada satu penawaran, supplier mungkin menanggung bagian tertentu dari perjalanan barang. Penawaran lain mungkin memindahkan lebih banyak biaya dan risiko kepada pembeli sejak tahap yang lebih awal.

Karena itu, membandingkan dua quotation tanpa memahami Incoterms yang digunakan dapat menghasilkan perbandingan yang tidak setara.

Sebelum melihat siapa yang “lebih murah”, pastikan terlebih dahulu apa saja yang sebenarnya termasuk dalam harga.

Bea, Pajak, dan Pungutan Harus Berdasarkan Transaksi Nyata

Untuk barang lintas negara, biaya terkait kepabeanan dan pajak dapat menjadi bagian penting dari total biaya.

Namun besarannya tidak bisa diasumsikan sama untuk setiap produk.

Klasifikasi barang, negara asal, nilai transaksi, aturan yang berlaku, dan struktur impor dapat memengaruhi kewajiban yang muncul. Regulasi juga dapat berubah.

Karena itu, perhitungan untuk transaksi nyata sebaiknya menggunakan klasifikasi dan ketentuan resmi yang relevan, serta bantuan profesional bila diperlukan.

Jangan memasukkan satu persentase generik ke semua produk hanya karena pernah berlaku pada shipment sebelumnya.

Selisih Kurs Bisa Menggerus Margin

Bisnis yang membeli menggunakan mata uang berbeda menghadapi variabel tambahan.

Quotation mungkin dibuat ketika kurs berada pada satu level, sedangkan pembayaran dilakukan beberapa minggu kemudian ketika nilainya berubah.

Pada transaksi kecil, perbedaannya mungkin tidak terlalu terasa.

Pada pembelian dalam jumlah besar, perubahan beberapa persen saja dapat memengaruhi total biaya dan margin secara signifikan.

Karena itu, perencanaan landed cost sebaiknya membedakan antara estimasi dan biaya aktual setelah pembayaran selesai.

Biaya Bank Juga Sering Terlewat

Pembayaran internasional dapat membawa biaya tambahan.

Ada biaya transfer, konversi mata uang, atau biaya perantara tergantung metode dan institusi yang digunakan.

Nominalnya mungkin terlihat kecil dibanding nilai purchase order.

Tetapi jika bisnis melakukan banyak transaksi sepanjang tahun, biaya tersebut tetap menjadi bagian dari pengeluaran nyata.

Prinsip landed cost sederhana: jika biaya tersebut harus dikeluarkan agar barang bisa dibeli dan tersedia, jangan otomatis mengabaikannya hanya karena tidak tercetak di invoice produk.

Asuransi Bukan Harga Barang, tetapi Tetap Biaya

Untuk shipment tertentu, bisnis dapat menggunakan perlindungan asuransi sesuai kebutuhan dan ketentuan transaksi.

Premi tersebut bukan bagian dari harga produksi barang.

Namun tetap merupakan biaya yang terkait dengan proses membawa barang menuju tujuan.

Jika satu supplier membutuhkan jalur pengiriman yang lebih panjang atau memiliki profil risiko berbeda, struktur biaya perlindungannya juga dapat berbeda.

Hal-hal seperti ini membuat quotation termurah belum tentu menghasilkan landed cost terendah.

Handling dan Administrasi Bisa Terpecah Menjadi Banyak Tagihan

Biaya logistik jarang muncul dalam satu baris sederhana bernama “shipping.”

Ada berbagai layanan yang mungkin terlibat selama barang berpindah melalui rantai pasok.

Handling, dokumentasi, pemeriksaan, terminal, jasa agen, atau layanan lain dapat muncul tergantung jenis transaksi.

Masalahnya, sebagian biaya baru terlihat jelas ketika shipment sudah berjalan.

Karena itu, bisnis yang sering melakukan pembelian sebaiknya menyimpan histori biaya aktual setiap shipment. Data tersebut membuat estimasi pembelian berikutnya jauh lebih realistis.

Penyimpanan Tambahan Bisa Membuat Barang Murah Menjadi Mahal

Bayangkan shipment tiba lebih cepat daripada kapasitas gudang yang tersedia.

Barang harus ditempatkan di fasilitas tambahan.

Sekarang muncul biaya penyimpanan yang sebelumnya tidak masuk perhitungan.

Hal serupa dapat terjadi jika proses pengambilan barang terlambat atau ada hambatan administrasi.

Landed cost tidak hanya dipengaruhi oleh perjalanan fisik, tetapi juga oleh seberapa efisien barang bergerak melewati setiap tahap.

Barang Rusak Mengubah Biaya Per Unit

Misalnya bisnis membeli 1.000 unit dengan total biaya keseluruhan Rp100 juta.

Secara sederhana, biaya per unit terlihat Rp100.000.

Tetapi bagaimana jika hanya 950 unit yang akhirnya dapat dijual karena sebagian mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan?

Jika kerugian tersebut menjadi tanggungan bisnis, biaya efektif terhadap unit yang dapat digunakan menjadi lebih tinggi.

Karena itu, tingkat kerusakan, kehilangan, atau reject dapat menjadi komponen penting ketika mengevaluasi supplier dan jalur logistik.

Supplier Murah dengan Reject Tinggi Bisa Jadi Pilihan Mahal

Harga pembelian sebaiknya tidak dipisahkan dari kualitas.

Supplier A menjual Rp100.000 per unit dengan tingkat penerimaan barang yang konsisten.

Supplier B menjual Rp90.000, tetapi lebih banyak unit gagal memenuhi standar dan memerlukan sorting tambahan.

Selisih harga Rp10.000 mulai kehilangan makna ketika bisnis harus membayar tenaga ekstra, melakukan penggantian, menanggung barang tidak layak jual, atau menghadapi komplain pelanggan.

Procurement yang sehat tidak sekadar mencari harga beli terendah.

Tujuannya adalah mendapatkan nilai ekonomi yang masuk akal untuk keseluruhan proses.

Minimum Order Quantity Juga Bisa Menipu

Supplier dapat menawarkan harga per unit yang jauh lebih murah jika bisnis membeli dalam jumlah besar.

Di atas spreadsheet, diskon tersebut terlihat menguntungkan.

Namun stok tambahan membutuhkan modal dan ruang.

Jika produk bergerak lambat, uang bisnis tertahan lebih lama di inventory. Dalam kasus tertentu, barang bahkan dapat menjadi obsolete, rusak, atau kehilangan permintaan sebelum terjual.

Karena itu, harga unit harus dipertimbangkan bersama kebutuhan stok sebenarnya.

Membeli lebih banyak hanya untuk mendapatkan harga lebih murah belum tentu mengurangi biaya bisnis secara keseluruhan.

Buat Estimasi Sebelum Purchase Order Disetujui

Waktu terbaik menghitung landed cost bukan setelah barang sampai.

Buat estimasi ketika membandingkan penawaran supplier.

Tidak harus sempurna sampai angka terakhir. Beberapa biaya memang belum diketahui secara pasti.

Namun bisnis setidaknya dapat membuat kategori utama dan memasukkan estimasi berdasarkan quotation logistik, ketentuan transaksi, serta histori shipment sebelumnya.

Dengan begitu, keputusan purchasing dibuat menggunakan gambaran biaya yang lebih realistis.

Pisahkan Estimated dan Actual Landed Cost

Salah satu kebiasaan yang berguna adalah menyimpan dua angka.

Pertama adalah estimated landed cost sebelum transaksi.

Kedua adalah actual landed cost setelah seluruh biaya diketahui.

Kemudian bandingkan keduanya.

Jika estimasi selalu jauh lebih rendah, berarti ada komponen yang terus terlewat atau asumsi yang perlu diperbaiki.

Semakin banyak histori transaksi yang tersedia, semakin baik bisnis dapat memperkirakan biaya pembelian berikutnya.

Bandingkan Supplier dengan Kondisi yang Sama

Saat mengevaluasi dua supplier, buat perbandingan yang setara.

Gunakan kuantitas yang sama, tujuan pengiriman yang sama, periode pembelian yang relevan, dan cakupan biaya yang sebanding.

Jangan membandingkan harga produk supplier A yang sudah mencakup beberapa tahap pengiriman dengan harga supplier B yang belum mencakupnya.

Kemudian tambahkan faktor operasional seperti lead time, kualitas, minimum order, dan konsistensi.

Baru setelah itu selisih biaya mulai memiliki konteks yang berguna.

Landed Cost Membantu Menentukan Harga Jual Lebih Realistis

Jika bisnis menggunakan harga supplier sebagai dasar utama menentukan harga jual, margin dapat terlihat lebih besar daripada kenyataannya.

Misalnya produk dibeli Rp80.000 dan dijual Rp120.000.

Sekilas ada selisih Rp40.000.

Tetapi jika landed cost sebenarnya mencapai Rp100.000 setelah seluruh biaya relevan dimasukkan, gambaran margin berubah secara signifikan.

Mengetahui biaya aktual membantu bisnis membuat keputusan pricing berdasarkan kondisi ekonomi transaksi yang sebenarnya.

Jangan Membuat Perhitungan Terlalu Rumit untuk Transaksi Sederhana

Landed cost penting, tetapi sistemnya harus proporsional.

Bisnis tidak perlu menciptakan spreadsheet dengan puluhan kategori jika transaksi hanya memiliki beberapa komponen biaya yang sederhana.

Mulai dari biaya yang benar-benar material.

Harga produk.

Transportasi.

Biaya transaksi dan pungutan yang relevan.

Handling.

Kerugian yang benar-benar ditanggung.

Kemudian tambahkan detail jika bisnis memang membutuhkannya.

Tujuannya adalah menghasilkan angka yang berguna untuk keputusan, bukan membuat administrasi baru yang lebih mahal daripada informasi yang diperoleh.

Kesimpulan

Memahami cara menghitung landed cost barang mengubah pertanyaan procurement dari “supplier mana yang menawarkan harga paling murah?” menjadi “berapa biaya sebenarnya ketika produk sudah sampai dan siap digunakan atau dijual?”

Harga pembelian tetap penting, tetapi hanya satu bagian dari jawabannya.

Transportasi, kurs, handling, asuransi, pungutan yang berlaku, penyimpanan, kualitas, reject, dan berbagai biaya lain dapat mengubah hasil akhir. Karena itu, dua supplier dengan harga awal berbeda bisa menghasilkan urutan biaya yang justru terbalik setelah seluruh proses dihitung.

Buat estimasi landed cost sebelum menyetujui pembelian, lalu bandingkan dengan biaya aktual setelah transaksi selesai.

Dengan begitu, keputusan supplier tidak hanya terlihat murah pada quotation.

Ia juga masuk akal ketika seluruh tagihan sudah datang.

Related Posts