Dua supplier menawarkan produk yang hampir sama.
Supplier pertama memberikan harga Rp82.000 per unit. Supplier kedua meminta Rp91.000. Kalau hanya melihat quotation, pilihan pertama terlihat jelas lebih menguntungkan.
Lalu barang dikirim.
Ada biaya freight, handling, proses kepabeanan sesuai jenis transaksi, pengiriman dari titik kedatangan menuju gudang, perubahan kurs, dan beberapa unit yang ternyata rusak selama perjalanan. Ketika seluruh biaya dihitung ulang, produk Rp82.000 tadi ternyata memiliki biaya nyata yang lebih tinggi.
Masalahnya bukan selalu karena supplier memberikan harga yang menyesatkan. Sering kali bisnis memang membandingkan angka yang salah.
Memahami cara menghitung landed cost membantu bisnis melihat berapa biaya yang benar-benar dikeluarkan sampai barang tiba di lokasi yang ditentukan dan siap masuk ke proses penjualan atau distribusi.
Purchase Price Hanya Titik Awal
Harga beli adalah angka yang paling mudah dibandingkan.
Supplier A: Rp82.000.
Supplier B: Rp91.000.
Karena angkanya terlihat jelas, keputusan purchasing sering berhenti di sana.
Padahal barang belum berada di gudang.
Untuk membawa produk dari fasilitas supplier menuju lokasi bisnis, masih ada rangkaian proses lain. Setiap proses dapat menambahkan biaya.
Itulah alasan harga beli dan landed cost tidak boleh dianggap sebagai angka yang sama.
Apa Sebenarnya Landed Cost?
Secara sederhana, landed cost adalah total biaya yang terkait dengan membawa barang dari supplier sampai ke titik tujuan yang telah ditentukan.
Komponennya akan berbeda berdasarkan jenis transaksi, negara, moda transportasi, ketentuan perdagangan, produk, dan kesepakatan antara pembeli dengan penjual.
Secara konseptual, bisnis dapat melihatnya seperti:
Harga barang + transportasi + insurance + biaya impor yang berlaku + handling + biaya logistik lain = landed cost
Namun rumus sederhana tersebut hanya kerangka.
Perusahaan tetap harus menentukan biaya mana yang relevan dengan transaksi mereka dan bagaimana biaya bersama dialokasikan ke setiap produk.
Mulai dari Nilai Barang
Komponen pertama adalah nilai pembelian.
Misalnya bisnis membeli 1.000 unit dengan harga Rp80.000 per unit.
Nilai barang berarti Rp80 juta sebelum biaya lainnya diperhitungkan.
Angka ini kemudian menjadi dasar awal perhitungan.
Kesalahan terjadi ketika Rp80.000 langsung dianggap sebagai “modal per produk” dan digunakan untuk menentukan margin.
Kalau masih ada biaya signifikan untuk membawa barang sampai gudang, margin tersebut belum menggambarkan kondisi sebenarnya.
Freight Bisa Mengubah Supplier Termurah Menjadi Mahal
Lokasi supplier berpengaruh terhadap biaya pengiriman.
Supplier dengan unit price lebih murah tetapi berada pada lokasi yang membutuhkan rute logistik mahal belum tentu menghasilkan total biaya lebih rendah.
Moda transportasi juga penting.
Pengiriman melalui laut, udara, darat, atau kombinasi beberapa moda memiliki struktur biaya dan waktu yang berbeda.
Karena itu, purchasing sebaiknya tidak menanyakan hanya:
“Berapa harga produknya?”
Pertanyaan berikutnya adalah:
“Berapa biaya untuk membawa jumlah tersebut sampai ke titik yang kita butuhkan?”
Jangan Lupakan Pengiriman Setelah Barang Tiba
Barang sudah tiba di pelabuhan, bandara, terminal, atau titik distribusi.
Perjalanan belum tentu selesai.
Masih mungkin diperlukan transportasi menuju gudang perusahaan.
Untuk bisnis yang memiliki beberapa gudang, bahkan titik tujuan akhirnya perlu didefinisikan dengan jelas.
Jika Supplier A dihitung sampai pelabuhan sementara Supplier B dihitung sampai gudang, perbandingannya tidak setara.
Tetapkan titik landed cost yang konsisten sebelum membandingkan penawaran.
Incoterms Memengaruhi Siapa Menanggung Biaya
Dalam perdagangan internasional, Incoterms membantu menjelaskan pembagian tanggung jawab tertentu antara penjual dan pembeli.
Perbedaan terms dapat membuat dua quotation yang kelihatannya mirip sebenarnya mencakup hal yang berbeda.
Satu penawaran mungkin sudah memasukkan sebagian biaya transportasi tertentu.
Penawaran lain mungkin berhenti pada titik yang jauh lebih awal dalam perjalanan barang.
Karena itu, jangan membandingkan dua angka supplier tanpa memahami basis penawarannya.
Harga yang lebih tinggi bisa saja sudah mencakup biaya yang pada quotation lebih murah masih menjadi tanggung jawab pembeli.
Insurance Juga Bagian dari Perjalanan Barang
Barang memiliki risiko selama transportasi.
Kecelakaan, kerusakan, kehilangan, atau kejadian lain dapat menimbulkan dampak finansial.
Tergantung transaksi dan pengaturannya, insurance dapat menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan dalam biaya logistik.
Nilainya mungkin terlihat kecil dibanding harga barang.
Namun landed cost bertujuan menangkap keseluruhan biaya relevan, bukan hanya komponen terbesar.
Biaya kecil yang terus berulang pada setiap shipment dapat menjadi angka yang signifikan dalam volume tahunan.
Bea, Pajak, dan Biaya Impor Tidak Bisa Disamaratakan
Barang impor dapat menghadapi kewajiban yang berbeda tergantung negara, klasifikasi barang, nilai, asal, peraturan yang berlaku, dan faktor lain.
Karena aturan dapat berubah dan perhitungannya bersifat spesifik, jangan menggunakan satu persentase generik untuk seluruh produk.
Gunakan klasifikasi dan informasi transaksi yang benar serta rujuk ketentuan resmi atau profesional yang sesuai ketika diperlukan.
Untuk keperluan internal, yang penting adalah memastikan biaya tersebut tidak hilang dari analisis landed cost hanya karena tidak tercantum pada invoice supplier.
Harga barang dan biaya masuk barang adalah dua lapisan yang berbeda.
Customs Broker dan Documentation Fee Bisa Terlewat
Proses perdagangan internasional melibatkan administrasi.
Dalam transaksi tertentu, perusahaan mungkin menggunakan jasa customs broker, freight forwarder, atau penyedia logistik lainnya.
Masing-masing dapat memiliki struktur biaya tersendiri.
Ada biaya yang muncul per shipment, per dokumen, berdasarkan volume, atau berdasarkan layanan yang digunakan.
Karena nilainya sering tersebar di beberapa invoice, finance dan purchasing perlu menggabungkannya agar biaya sebenarnya terlihat.
Kalau tidak, sebagian biaya impor akan masuk sebagai expense umum dan tidak pernah dikaitkan kembali dengan produk.
Handling dan Terminal Charges Perlu Masuk Perhitungan
Barang berpindah melalui beberapa titik.
Setiap perpindahan dapat melibatkan handling.
Bongkar.
Muat.
Penyimpanan sementara.
Terminal.
Warehouse receiving.
Tidak semua transaksi memiliki struktur yang sama, tetapi prinsipnya sederhana: jika biaya tersebut diperlukan untuk membawa shipment menuju kondisi dan lokasi yang ditentukan, pertimbangkan apakah biaya itu seharusnya masuk dalam landed cost perusahaan.
Konsistensi definisi sangat penting agar perbandingan antar-shipment tetap masuk akal.
Kurs Bisa Mengubah Biaya Sebelum Barang Datang
Supplier menawarkan harga dalam mata uang asing.
Hari ini quotation terlihat menarik.
Beberapa minggu kemudian pembayaran dilakukan ketika nilai tukar berubah.
Margin yang sebelumnya dihitung menggunakan kurs lama mulai bergeser.
Untuk bisnis dengan lead time panjang, currency exposure dapat menjadi faktor nyata dalam purchasing.
Perusahaan perlu menentukan kurs apa yang digunakan untuk budgeting, pencatatan, dan evaluasi aktual.
Yang penting adalah tidak memperlakukan harga dalam mata uang asing sebagai angka rupiah yang statis.
MOQ Bisa Membuat Harga Murah Menjadi Mahal
Supplier menawarkan diskon besar.
Syaratnya: minimum order quantity jauh lebih tinggi.
Harga per unit turun, tetapi perusahaan sekarang harus membeli 5.000 unit ketika kebutuhan realistis hanya 2.000.
Secara landed cost per unit, penawaran mungkin tetap terlihat menarik.
Namun keputusan bisnis tidak berhenti di sana.
Lebih banyak modal tertahan di inventory. Gudang membutuhkan ruang lebih besar. Risiko barang lambat bergerak meningkat.
Landed cost membantu memahami biaya produk, tetapi inventory economics tetap perlu dianalisis secara terpisah.
Harga murah tidak selalu berarti pembelian yang sehat.
Produk Rusak Mengubah Biaya Unit yang Bisa Dijual
Bayangkan bisnis mengimpor 1.000 unit.
Total landed cost shipment adalah Rp100 juta.
Secara sederhana, biaya per unit adalah Rp100.000.
Tetapi setelah pemeriksaan, 50 unit mengalami kerusakan dan tidak dapat dijual pada harga normal.
Sekarang hanya 950 unit yang dapat menghasilkan pendapatan penuh.
Secara ekonomi, biaya efektif per unit yang dapat dijual menjadi berbeda.
Inilah alasan quality performance supplier dan kualitas packaging memiliki konsekuensi finansial.
Kerusakan bukan hanya masalah operasional.
Ia memengaruhi economics dari pembelian.
Supplier Murah dengan Defect Rate Tinggi Tidak Benar-Benar Murah
Harga quotation dapat menghemat Rp4.000 per unit.
Kelihatannya menarik.
Tetapi jika supplier tersebut secara konsisten menghasilkan lebih banyak produk cacat, bisnis menanggung biaya lain.
Inspection.
Sorting.
Rework.
Return.
Replacement.
Customer complaint.
Waktu tim.
Tidak semua biaya tersebut selalu dimasukkan secara formal ke landed cost, tergantung sistem akuntansi perusahaan. Namun mereka tetap penting ketika mengevaluasi total cost of ownership supplier.
Purchasing yang matang tidak hanya mengejar harga invoice terendah.
Lead Time Juga Memiliki Konsekuensi Bisnis
Supplier dengan pengiriman 20 hari dan supplier dengan pengiriman 75 hari mungkin menawarkan struktur harga berbeda.
Lead time bukan komponen landed cost langsung dalam setiap metode perhitungan.
Namun dampaknya penting.
Semakin panjang replenishment cycle, semakin jauh bisnis perlu merencanakan inventory. Forecast error menjadi lebih sulit dikoreksi dan perusahaan mungkin membutuhkan buffer yang berbeda.
Karena itu, gunakan landed cost untuk membandingkan biaya produk, lalu gunakan lead time sebagai dimensi keputusan tambahan.
Jangan memaksa semua faktor masuk ke satu angka jika itu membuat analisis menjadi tidak jelas.
Demurrage dan Storage Bisa Menghancurkan Perhitungan
Shipment terlambat diproses.
Dokumen belum siap.
Clearance membutuhkan waktu lebih lama.
Barang tertahan.
Biaya penyimpanan atau keterlambatan tertentu dapat mulai muncul tergantung situasi dan kontrak logistik.
Masalahnya, biaya ini sering dianggap sebagai kejadian luar biasa sehingga tidak masuk ke estimasi awal.
Jika kejadian tersebut berulang, ia bukan lagi benar-benar “luar biasa.”
Analisis shipment sebelumnya dapat membantu bisnis mengetahui biaya mana yang secara historis sering muncul dan perlu diberikan contingency.
Jangan Membagi Semua Biaya Sama Rata per Unit
Misalnya satu container berisi dua produk.
Produk A kecil dan ringan.
Produk B besar dan berat.
Membagi freight berdasarkan jumlah unit saja dapat menghasilkan alokasi yang menyesatkan.
Dalam situasi tertentu, biaya lebih masuk akal dialokasikan berdasarkan berat, volume, nilai barang, jumlah unit, atau kombinasi tertentu.
Tidak ada satu metode yang ideal untuk semua jenis biaya.
Yang penting adalah menggunakan cost driver yang logis.
Freight berbasis volume sebaiknya tidak selalu dialokasikan seolah setiap unit menghabiskan ruang yang sama.
Pisahkan Biaya per Shipment dan Biaya per Produk
Beberapa biaya muncul karena produk tertentu.
Biaya lainnya muncul sekali untuk seluruh shipment.
Pemisahan ini membuat perhitungan lebih rapi.
Misalnya:
Harga barang dapat langsung dikaitkan dengan SKU.
Sementara biaya freight satu container harus dialokasikan ke beberapa SKU.
Documentation fee mungkin berlaku per shipment.
Inspection tertentu mungkin hanya berlaku untuk satu kategori produk.
Struktur seperti ini memudahkan bisnis memahami dari mana landed cost berasal.
Buat Template Landed Cost yang Konsisten
Perhitungan tidak perlu dimulai dari spreadsheet kosong setiap kali barang datang.
Buat template.
Kolomnya dapat mencakup purchase value, quantity, freight, insurance, handling, biaya impor yang relevan, transportasi lokal, biaya administrasi, kurs, dan biaya lain yang memang digunakan perusahaan.
Kemudian tentukan metode alokasi untuk biaya bersama.
Template membuat proses lebih cepat sekaligus mengurangi kemungkinan satu komponen terlupakan.
Lebih penting lagi, shipment dari bulan berbeda dapat dibandingkan menggunakan struktur yang sama.
Gunakan Estimated dan Actual Landed Cost
Saat purchase order dibuat, belum semua biaya diketahui secara pasti.
Bisnis tetap membutuhkan estimasi.
Buat estimated landed cost berdasarkan quotation freight, kurs perencanaan, tarif yang relevan, dan data shipment sebelumnya.
Setelah barang tiba dan seluruh invoice diterima, hitung actual landed cost.
Kemudian bandingkan keduanya.
Selisihnya memberikan informasi.
Apakah freight naik?
Apakah kurs bergerak?
Apakah ada biaya tak terduga?
Apakah estimasi handling terlalu rendah?
Semakin banyak shipment dianalisis, semakin baik kualitas budgeting berikutnya.
Harga Jual Sebaiknya Tidak Dibangun dari Purchase Price Saja
Misalnya produk dibeli Rp80.000.
Bisnis menginginkan margin tertentu lalu langsung menentukan selling price dari angka tersebut.
Padahal actual landed cost ternyata Rp103.000.
Margin yang terlihat bagus di spreadsheet purchasing bisa jauh lebih kecil setelah biaya nyata masuk.
Untuk produk impor atau produk dengan biaya logistik signifikan, pricing perlu menggunakan cost base yang mencerminkan realitas.
Kalau tidak, perusahaan bisa menjual banyak barang sambil terus bertanya mengapa keuntungan tidak mengikuti pertumbuhan omzet.
Gunakan Landed Cost untuk Membandingkan Supplier
Sekarang kembali ke dua supplier awal.
Supplier A menawarkan Rp82.000.
Supplier B menawarkan Rp91.000.
Setelah seluruh biaya relevan dihitung, hasilnya mungkin seperti ini secara konseptual:
Supplier A memiliki freight lebih tinggi, lead time lebih panjang, dan tingkat kerusakan lebih besar.
Supplier B memiliki purchase price lebih tinggi tetapi rute pengiriman lebih efisien dan produk tiba dalam kondisi lebih konsisten.
Keputusan purchasing sekarang memiliki konteks yang jauh lebih baik.
Anda tidak lagi membandingkan dua angka quotation.
Anda membandingkan dua jalur supply.
Tetapi Jangan Memilih Supplier Hanya dari Landed Cost
Landed cost adalah alat pengambilan keputusan, bukan satu-satunya keputusan.
Supplier dengan biaya terendah tetap dapat memiliki masalah pada kapasitas, kualitas, komunikasi, reliability, compliance, atau lead time.
Sebaliknya, supplier sedikit lebih mahal dapat memberikan stabilitas yang lebih bernilai untuk operasi tertentu.
Gunakan landed cost bersama faktor supplier lainnya.
Tujuannya bukan mencari angka paling kecil dengan mengabaikan semuanya.
Tujuannya memahami biaya sebenarnya sebelum membuat trade-off.
Review Landed Cost Secara Berkala
Landed cost bukan angka yang dihitung sekali lalu digunakan selamanya.
Freight berubah.
Kurs berubah.
Supplier mengubah harga.
Rute logistik berubah.
Biaya handling berubah.
Regulasi dapat berubah.
Produk yang memiliki landed cost Rp100.000 enam bulan lalu belum tentu masih memiliki struktur biaya yang sama hari ini.
Untuk SKU penting, lakukan review secara berkala berdasarkan data aktual.
Dengan begitu, pricing dan keputusan purchasing tidak menggunakan asumsi lama.
Kesimpulan
Memahami cara menghitung landed cost membantu bisnis berhenti menilai supplier hanya berdasarkan angka terbesar yang terlihat di quotation: harga barang.
Purchase price hanyalah titik awal. Barang masih harus bergerak dari supplier menuju titik tujuan. Sepanjang perjalanan tersebut dapat muncul freight, insurance, handling, biaya impor yang berlaku, jasa logistik, transportasi lokal, perubahan kurs, serta biaya lain sesuai struktur transaksi.
Perhitungan juga perlu mempertimbangkan bagaimana biaya bersama dialokasikan ke SKU yang berbeda. Untuk pengambilan keputusan yang lebih baik, bandingkan estimated landed cost dengan actual landed cost setelah shipment selesai.
Setelah itu, lihat faktor lain seperti lead time, quality performance, MOQ, dan reliability supplier secara terpisah.
Supplier termurah memang bisa menjadi pilihan terbaik.
Tetapi kata “termurah” seharusnya baru digunakan setelah bisnis mengetahui berapa biaya barang tersebut ketika benar-benar sampai di tempat yang dibutuhkan—bukan ketika quotation pertama kali masuk ke email.